Sabtu, 06 September 2014

Aksi Kecil Untuk Manfaat Besar

Apa yang Menjadi Alasan Rusaknya Sebuah Habitat?

Alih-alih pembangunan daerah, kini eksploitasi terhadap sumber daya alam semakin merajalela. Eksploitasi alam seringkali terjadi tanpa memperhatikan kembali pengelolaan lingkungan. Sehingga dampak yang ditimbulkan akan semakin besar. Seperti saja contohnya, penebangan hutan secara liar tanpa diiringi adanya penanaman kembali (reboisasi), dan juga eksploitasi terhadap pertambangan dan migas. Semakin hal ini cepat berlanjut, semakin tinggi pula dampak yang ditingkatkan. Dampak yang paling sering terjadi adalah menurunnya keanekaragaman sumber daya makanan dan tempat tinggal, sehingga organisme akan cepat menemui kematiannya. Ini pun otomatis akan mempercepat kepunahan beragam spesies yang hidup dalam habitat tersebut. Dampak yang lebih luas lagi yaitu kerusakan sumber daya alam yang semakin merambah kemana-mana.

Mengingat kembali pada kenyataan dari Pulau Papua. Pulau terbesar kedua di dunia ini sempat mengalami eksploitasi alam besar-besaran selama hampir 22 tahun terakhir! Bayangkan, betapa besar danpak yang dialami dalam kurun waktu begitu lama tersebut? Seperti yang dilansir dalam www.downtoearth-indonesia.org, pada tahun 1989-2010 memberikan indikasi besarnya kerusakan sumber daya alam di Papua. 
www.downtoearth-indonesia.org

Lalu Apa Upaya yang Patut Dilakukan?

Belajar dari keadaan di Pulau Papua tersebut, membuat kita harusnya lebih sadar terhadap lingkungan. Seberapa besarkan kepedulian siswa terhadap lingkungan? Masih terbilang kecil. Tak sedikit di antara mereka yang berpikir, "Di sekolah sudah ada Cleaning Service, berarti tak ada gunanya buang sampah di tempatnya. Toh, mereka juga yang membersihkan."
Membuat siswa untuk membuang jauh-jauh pikiran tersebut, bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika bukan pihak dari orang dewasa yang turut mengambil peran sebagai contoh bagi mereka. Mulailah dari aksi nyata yang kecil namun berarti dan terpuji. Seperti:
  • Melakukan penanganan sampah organik-non organik
  • Menanam bibit pohon setidaknya sebulan sekali
  • Menggunakan sepeda sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan
  • Tidak lagi mencabuti tanaman secara liar
  • Memahami pentingnya lingkungan sehat untuk hidup lebih baik
Sedikit demi sedikit, lambat tapi pasti, semua akan berubah sesuai yang kita lakukan bagi lingkungan. Lagipula, siapa yang betah jika lingkungan yang kita tinggali hanya membuat gerah? Maka dari itu, mulai sekarang mari kita galakan aksi penyelamatan lingkungan, dengan diri kita sendiri sebagai pelaksana!
Let's Go Green!

5 komentar:

  1. Kamu bikin Blog baru lagi, Sis ?!

    BalasHapus
  2. Waw, baru tahu aku kalau di Papua mengalami eksploitasi parah. Dari dulu di media massa yang ada cuma ngebahas masalah politik aja sih.... Tapi memang benar sih, negara kita ini di eksploitasi besar-besaran, tapi gak pernah tuh muncul ke permukaan informasinya. Mungkin "kurang menguntungkan" ya bagi media massa? Well, aku juga setuju dengan memulai kebiasaan go green pada anak kecil. Dulu aku pas TK gak pernah dikasi tahu mengenai go green, jadinya aku suka banget nyabut-nyabutin tanaman! Tapi semuanya udah berubah sih. Pas SD sering dapat penyuluhan tentang pentingnya kegiatan go green. Sejak itu, aku jadi gak pernah nyabutin tanaman lagi :D. Aku juga mulai mengurangi buang sampah sembarangan (Ya! Kadang-kadang masih. Soalnya gak semua tempat menyediakan tempat sampah :v). Menurutku sih memang penting sekali untuk memulai dari anak-anak, soalnya menurut penelitian, kan memang saat masih kecil lah anak-anak paling mudah dipengaruhi, karena anak-anak meniru sikap orang lain. Orang tua juga mestinya diberi penyuluhan, karena sebagian besar anak itu pasti mencerminkan sifat orang tuanya. Kalau orang tuanya suka buang sampah sembarangan, ya tentu saja si anak juga mengikutinya. Si anak kan pasti mikirnya "Kalau orang tua ku aja buang sampah sembarangan gak apa-apa, kenapa aku gak boleh?" Nah, kalau anak udah berpikir begitu, itu yang berbahaya. Jadi memang harus diberi penyuluhan kepada kedua pihak. Aku juga setuju dengan ide penanaman bibit. Hanya dengan berorasi mendukung tindakan go green saja, tentu tidak akan sangat membantu. Kita sendirilah yang harus dibiasakan untuk langsung menanam. Kalau sering dilakukan, otomatis jadi kebiasaan. Orang lain pun juga akan mengikuti kebiasaan baik orang itu, yaitu menanam pohon. Menurutku sih, anak-anak memang harus di ikutkan organisasi penghijauan atau paling tidak sering diberikan penyuluhan. Siapa tahu, si anak malah menjadi pelopor penghijauan? Itu saja. Again, nice post!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu poinnya. Lagian kalo mau buang sampah, tapi nggak ada tempat sampah, kan bisa menjadikan saku baju/calana sebagai tempat sampah sementara.
      Tapi jaman sekarang sulit mengajak anak untuk ikut organisasi semacam itu, kalau tidak dipakasa. Mereka lebih senang berselancar di dunia internet dibanding harus repot-repot mengurus alam. Tapi harusnya mereka bisa lebih menggunakan internet secara maksimal. Misalnya dengan mencari tahu sebab-akibat jika alam ini mulai rusak. Bukannya hanya update status sana-sini.

      Hapus
    2. Wah, bener tuh sarannya. Aku sendiri sih ngerasa memang belum memakai internet secara maksimal. Ya, mulai sekarang aku coba seling-selingin deh waktu browsing ku untuk menambah pengetahuan.
      Btw, kalau menurutku sih, kayaknya akan bagus kalau sekolah yang mengadakan acara Go Green. Misalnya, diadain tiap 2 mingguan sekali. Kegiatannya itu diabsensi dan dapat mempengaruhi nilai. Pasti murid-murid banyak yang ikut. Nah, dari paksaan itu, otomatis murid-murid akan aware sama lingkungan. Kayaknya bagus sih ide nya itu...

      Hapus